-->
Awan
masih belum puas menumpahkan berkubik-kubik air matanya menyeruak ke dalam
bumi. Langit hitam gelap, seolah tak ingin kemeriahan hadir menyambut tahun
baru malam nanti.
Hari
ini tanggal 31 Desember 2012. Aku duduk di teras rumah ditemani rinai hujan
yang seolah membentuk nada-nada indah dari lagu yang kudengar dari handset handphoneku. Beberapa kali kulirik handphone menanti sebuah sms. Namun sms
itu tak kunjung tiba. Kuhela nafas. Apa
dia tak mengingatku lagi? batinku pilu.
“Ra
… jangan di luar terus. Nanti kamu masuk angin lagi. Sini masuk,” teriak
bundaku dari dalam.
“Iya,
Bun. Nanti Dira masuk.”
Aku
masih ingin ditemani rinai hujan yang seolah mengerti perasaanku. Aku ingin
hujan menyiram segenap hatiku. Membasuh jiwa-jiwa hampa yang kosong tiada isi.
Entah
mengapa dan darimana tiba-tiba timbul keinginan untuk bermain di bawah hujan.
Menikmati rinai gemericiknya yang damai membasuh kulitku. Mungkin dengan ini
air bisa masuk ke hatiku membawa kedamaian. Bukankah air merupakan pelarut
universal. Aku percaya ia pun bisa melarutkan hatiku agar merasa lebih damai.
Aku
beranjak dari kursi yang sedari tadi kududuki. Kulepas handset yang terpasang
di telingaku.
Beberapa
saat kemudian aku telah berada di sana. Di bawah rinai hujan. Kutengadahkan
kepala ke atas langit dan tanganku menampung hujan yang turun dengan derasnya.
Menumpahkan segala beban yang bergejolak dalam jiwa.
***
Malam
ini malam tahun baru kedua yang kulalui bersama Rihan. Lelaki yang sudah dua
tahun menjalin hubungan denganku. Tahun baru kemarin adalah tahun baru paling
istimewa. Rihan menyatakan cintanya padaku di tengah sahabat-sahabatku.
Bahagia. Itu yang kurasa.
Rihan,
sesosok cowok yang begitu sempurna di mataku. Tubuhnya tegap. Matanya bagai
burung elang, tajam. Apalagi saat ia menatapku dari kejauhan. Meski aku seolah tak
melihatnya namun ujung mataku selalu menangkap gerak-geriknya. Atau saat mata
kami beradu. Ada seribu debar jantung yang tak terlukis menghampiri hatiku.
“Di
depan kalian semua aku mau mengatakan sesuatu. Sesuatu yang beberapa minggu
belakangan ini menyiksa batinku. Rasanya aku tak sanggup menahan gejolak rasa
ini.”
Setelah
mengatakan itu, tiba-tiba ia menarik tanganku ke depan gerombolan
teman-temanku. Dan tiba-tiba saja ia duduk berlutut di hadapanku.
“Saat
ini, biarlah malam yang gelap, bulan dan bintang di langit, teman-teman, serta
pergantian tahun yang menjadi saksi nyata. Saksi dari rasa cinta yang selama
ini kupendam. Maukah engkau menjadi bidadari yang mengiasi hatiku, Dira? Maukah
engkau menjadi pengisi kekosongan relung jiwaku?”
Saat
itu dunia seolah menatap ke arahku. Aku terpaku diam tak bergerak. Apa yang
harus kujawab? Aku tak mampu berkutik. Ya, tentu saja aku mau. Tentu saja aku
ingin. Ini yang selama ini aku nantikan.
Aku
mengangguk pelan namun pasti. Semua pasang mata menatap kami berdua seraya
tersenyum. Tak lama berselang gemuruh tepuk tangan terdengar menguasai ruangan
tempat kami berkumpul. Di penghujung tahun 2010 Rihan menyatakan sejuta kata
cinta mesra untukku. Membawa sebuah kebahagiaan baru.
***
Hari
demi hari berlalu. Konflik-konflik kecil yang terjadi di antara kami bukan
penghambat untuk hubungan kami. Hubungan yang terjalin semakin mesra karena
kedewasaan kami yang terus bertambah. Saat ini aku sedang menyelesaikan kuliahku
di semester lima. Sementara Rihan baru saja diterima menjadi seorang karyawan
sebuah perusahaan.
Hari
ini, tanggal 31 Desember 2011. Sejak siang Rihan sudah meneleponku dan bilang
ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Sesuatu? Apa yang ingin dikatakannya? Apa ia
akan melamarku. Oh tidak, apa yang harus ku jawab jika seandainya itu terjadi.
Jika kutolak aku membohongi diriku. Karena sejujurnya aku sangat mencintainya.
Aku siap jadi pendamping hidupnya meskipun aku masih berada di semester lima. Rihan, mengapa kau selalu mengusik
hari-hariku, Sayang?
Sore
harinya aku mengadakan persiapan yang istimewa. Baju baru yang sengaja kubeli
untuk merayakan satu tahun jadian kami telah kupakai. Bahkan parfum yang baru
kubeli sudah setengahnya habis kupakai. Dengan mengoles sedikit eye shadow menambah rasa percaya diriku
saat itu. “Apa aku sudah cantik?” tanyaku kepada Risa. Sahabat terdekatku yang
sedari pagi sudah stand by di rumahku
membantuku berias. Aku merasa bak seorang putri malam itu.
“Siip.
Kamu bukan cuma cantik. Tapi perfect. Rihan pasti bangga dan makin sayang
padamu,” ujar Risa sambil tersenyum senang.
Tepat
pukul 07.00 Rihan telah berada di depan rumahku. Begitu melihatku mulutnya menggelembung
membentuk huruf O. Sudah kutebak, ia pasti terpesona melihat penampilanku malam
ini.
Rihan
mengajakku ke sebuah kafe elit. Setelah kami memesan makanan kami bercanda ria
seperti biasa saat bertemu. Rasa bahagia melingkupi segenap jiwaku.
Namun
tiba-tiba,
“Diraa,”
panggilnya.
“Iya,
Sayang,” jawabku manja.
“Kamu
tau mengapa aku mengajak kamu nge-date
malem ini?”
Aku
bingung menjawab pertanyaannya. Pastinyalah. Hari inikan hari jadian kami. Jadi
wajar aja dia ngajak aku nge-date.
Apalagi ini malam tahun baru.
“Apa?”
Akhirnya satu kata ini yang kukeluarkan dari mulut. Pelan tapi pasti.
“Aku
mau ….” Rihan berkata lambat sekali. Aku sampai tidak sabar mendengarnya. Ya Allah,
akhirnya apa yang aku inginkan bakalan terwujud malam ini. Jantungku berdetak
tak beraturan.
“Aku
mau kita putus.”
Bletak,
seolah ada durian menimpa kepalaku. Aku tak percaya dengan ucapannya. Aku pasti
salah dengar.
“Apa
kamu bilang? Aku kurang dengar.”
Rihan
menghela nafas panjang. Dialihkannya matanya ke sudut lain. Sudut dimana
orang-orang juga asyik berbincang menghabiskan malam tahun baru bersama
pasangannya.
“Aku
mau kita putus,” ulang Rihan sekali
lagi. Kali ini matanya menatap tajam ke arahku. Biasanya aku menyukai tatapan
itu. Tapi untuk kali ini, untuk detik ini, dan untuk pertama kalinya aku tidak
menyukai pandangan itu. Justru aku membencinya.
“Kenapa?”
tanyaku berusaha tegar. Air mata sebenarnya sudah menumpuk di pelupuk mataku.
Pedih. Aku gak nyangka akan apa yang dibilangnya. Dunia serasa kebalik.
“Kenapa?
Kenapa Rihan?” tanyaku emosi. Aku berdiri dari tempat duduk. Air mataku sudah
tak sanggup ku tahan. Butir demi butir air mata turun membasahi pipiku.
Melunturkan make up yang kugunakan
dari rumah. Melunturkan kecantikan yang sengaja kupersembahkan utuknya.
“Aku
mau pergi. Dan sepertinya kita tidak akan pernah bisa berjumpa lagi.”
“Maksud
kamu? Kamu mau pergi kemana?”
Berpasang-pasang
mata mulai mentap ke arah kami. KamI mulai menjadi perhatian seluruh ruangan.
Karena
merasa tidak nyaman Rihan membawaku ke luar ruangan.
“Kita
gak mungkin bersama lagi. Dira. aku udah nemuin pasangan sejatiku. Pasangan
yang akan menemaniku selamanya. Pasangan yang juga mencintaiku melebihi cintamu
padaku bahkan cintaku padanya lebih besar daripada cintaku padamu.”
Plakk
… spontan tanganku menampar pipinya.
“Aku
gak nyangka. Ternyata kamu gak jauh berbeda dari cowok-cowok lain.”
Kutinggalkan
ia sendiri menatp kepergianku. Air mata sudah membanjiri wajahku sedari tadi.
Tapi tidak wajah Rihan. Kupanggil taksi yang membawaku pulang. Tak berapa lama
kemudian kudengar keributan dari tempat Rihan. Ketika kutolehkan wajah, kulihat
tempat Rihan berdiri dikerumuni banyak orang. Tak kuhiraukan. Hatiku pilu.
Sangat pilu.
Begitu
sampai di rumah kubanting pintu kamar. Bunda yang melihat hal itu langsung terkejut.
Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Dir,
Diraa … buka pintunya, Sayang. Ini bunda.”
“Masuk
aja bun. Gak Dira kunci,” jawabku terisak.
Begitu
bunda masuk, beliau langsung memelukku. Kutumpahkan seluruh tangisku di
dadanya. Bunda memang selalu mengerti aku. Hanya dia makhluk paling sempurna di
dunia ini.
Kemudian
bunda bertanya padaku apa yang terjadi. “Saat mau pergi wajah anak bunda
berbinar-binar. Pulangnya kok cemberut gini?”
Kuceritakan
padanya apa yang terjadi dan keberengsekan manusia bernama Rihan itu. Bunda
terkejut mendengar penuturanku.
***
Jam
masih menunjukkan pukul 06.00 saat handphone
yang kuletakkan di meja samping tempat tidur tiada henti berbunyi. Aku keluar
dari balik selimut dan melihat siapa yang menelepon sepagi ini. Tadi malam aku
tidak ikut merayakan pesta tahun baru. Hanya bunda yang menemaniku hingga kuterlelap
di dunia mimpi. Entah jam berapa, aku pun
tak tau.
“Assalamualaikum,
Halo,” sapaku malas.
“Apa?”
aku terlonjak kaget begitu mendengar berita yang dibawakan sang penelepon yang
tak lain dan tak bukan adalah Risa.
Aku
langsung bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah mandi bebek, aku langsung
mengganti baju dan segera pergi.
“Mau
kemana, Dir, sepagi ini?” tanya bunda saat melihatku akan pergi.
“Ke
rumah sakit, Bun,” jawabku singkat.
“Loh,
siapa yang sakit?”
Tak
kuacuhkan pertanyaan bunda. Pikiranku kalut. Setelah mencium tangan ibu dan
pamit aku langsung meluncur ke rumah sakit yang diberitahu Risa.
Sesampainya
disana aku langsung menuju ruang ICU. Disana tampak tante Avioleta, mama Rihan
menangis sesenggukan. Sementara Risa belum namppak batang hidungnya. Begitu
melihat kehadiranku wanita itu langsung memelukku. Tangisanku iut pecah disana.
“Dia
udah gak ada, Ra. Rihan udah gak ada.”
Seketika
aku terjongkok begitu pelukan kami lepas. Lututku terkulai lemas. Ya Allah,
kenapa kau memanggilnya secepat ini? Kenapa? Aku mencintainya ya Allah, jerit
batinku.
***
Sehabis
solat Dzuhur jenazah Rihan langsung dimakamkan. Pemakaman yang berlangsung
dengan cepat namun menyisakan luka mendalam. Di tumpukan tanah tempat
peristirahatan terakhirnya aku terjongkok. “Selamat jalan kekasihku. Selamat
tidur!” ucapku dalam hati. Air mataku tak mampu kubendung. Risa mengangkat
tubuhku yang lemah lunglai tak berdaya dan memapahku pulang.
Sebelum
meninggalkan pemakaman seseorang memanggilku.
“Kak
Dira …”
Kutolehkan
wajahku ke belakang. Tampak Adit, adik Rihan di belakang kami. Ia berlari ke arah
kami.
“Kak,
ini dari kak Rihan. Kata kak Rihan, kalau kak Rihan meninggal aku disuruh
ngasih ini ke kakak.”
Kuambil
surat dan sebuah kado kecil dari tangan Adit. “Makasih ya, Dit.”
Adit
mengangguk dan berlalu.
Sesampainya
di rumah kubuka surat dari Rihan. Risa masih berada di sampingku. Dia sangat
cemas melihat keadaanku. Risa tau apa yang terjadi antara aku dan Rihan tadi malam.
Risa sempat datang ke rumahku dan ikut mendengarkan curhatku bersama dengan
bunda. Ketika aku tidur Risa pulang ke rumahnya. Awalnya bunda nyuruh dia
nginap di rumahku. Namun karena belum pamit pada mamanya Risa tidak mau.
Kubaca
perlahan surat manis itu.
Dear bidadari yang
selalu ada di hatiku.
Malam tahun baru adalah
malam terindah untuk kamu dan aku. Malam yang selalu kita nantikan
kehadirannya. Malam yang saat itu menjadi saksi bisu cinta yang bersemi di
antara kita.
Maaf, aku telah
melukaimu bidadari hatiku. Tiada maksud apapun di dalam hatiku. Hatiku masih
untukmu saat ini. bahkan untuk selamanya.
Sejujurnya aku ingin
melintasi banyak waktu lagi bersamamu. Aku benar-benar jatuh cinta padamu.
Namun takdir berkata lain. Kita harus berpisah. Aku tau ajal di depan mataku.
Aku sengaja tidak memberitahukan padamu, Sayang. Aku tak mampu harus berkata
jujur padamu. Biarlah surat ini yang menjadi perantara isi hatiku.
Sebenarnya setahun
terakhir ini aku menderita kanker otak yang cukup parah. Aku tau nyawaku tidak
akan selamat. Aku tau usiaku pendek. Bahkan dokter sudah memvonis hal itu. Aku
tak mau ada sebutir airpun menetes di pipimu saat kematianku. Biarlah engkau
membenciku. Biar, yang penting kau tidak menangisi kepergianku.
Bidadariku, aku akan
pergi selama-lamanya dari hidupmu. Gapai semua angan citamu. Banyak lelaki yang
lebih baik dariku. Banyak lelaki yang akan mencintaimu melebihi cintaku padamu.
Maafkan aku sayang tak bisa menjaga dirimu.
Beserta surat ini ada
sebuah kado kecil istimewa yang kupersembahkan untukmu bidadari pengisi relung
jiwaku. Kado terakhir yang kuberikan sebagai kado valentine yang sebentar lagi
hadir. Semoga engkau bahagia tanpaku disisimu.
Rihan
Air
mataku sudah membanjiri pipi saat kubaca surat itu. Risa hanya mengelus-elus
pundakku mencoba menenangkan. Kubuka perlahan kado itu. Sebuah kalung dengan
liontin kecil sebagai mainannya. Ukiran huruf DR menghiasi liontin itu.
***
Malam
ini adalah setahun kepergian Rihan. Di bawah derai hujan kutengadahkan wajah ke
langit. Aku ingin mengabulkan permintaan Rihan untuk tidak menangis. Aku
buktikan di bawah rinai hujan ini. Biarlah wajahku basah oleh air hujan. Toh
kalaupun aku menangis, tak akan ada seorang pun yang tau. Apalagi Rihan. Aku
tak mau Rihan melihatku menangis, tidak akan.
Kutegarkan
diri meyakinkan bahwa orang yang selama setahun kutunggu sms darinya telah
tiada. Aku tau kau telah bahagia bersama pasanganmu yang mencintaimu lebih dari
cintaku dan kau cintai melebihi cintamu padaku. Kutau Rihan. Ku tau Dia selalu
menjagamu, sama seperti Dia menjagaku. Bahkan dia lebih menginginkan kau ada di
sisi-Nya daripada di sisiku. Aku terduduk dan terkulai lemas di depan rumah
ditemani rinai hujan yang semakin deras.
Dhi Diera
Pematangsiantar, 18 Agustus 2012
Komentar
Posting Komentar
Jangan ragu komentar ya, Teman ;)