Langsung ke konten utama

Tahun Baru (Dimuat di Harian Analisa, 02 Januari 2013)

-->
Awan masih belum puas menumpahkan berkubik-kubik air matanya menyeruak ke dalam bumi. Langit hitam gelap, seolah tak ingin kemeriahan hadir menyambut tahun baru malam nanti.
Hari ini tanggal 31 Desember 2012. Aku duduk di teras rumah ditemani rinai hujan yang seolah membentuk nada-nada indah dari lagu yang kudengar dari handset handphoneku. Beberapa kali kulirik handphone menanti sebuah sms. Namun sms itu tak kunjung tiba. Kuhela nafas. Apa dia tak mengingatku lagi? batinku pilu.
“Ra … jangan di luar terus. Nanti kamu masuk angin lagi. Sini masuk,” teriak bundaku dari dalam.
“Iya, Bun. Nanti Dira masuk.”
Aku masih ingin ditemani rinai hujan yang seolah mengerti perasaanku. Aku ingin hujan menyiram segenap hatiku. Membasuh jiwa-jiwa hampa yang kosong tiada isi.
Entah mengapa dan darimana tiba-tiba timbul keinginan untuk bermain di bawah hujan. Menikmati rinai gemericiknya yang damai membasuh kulitku. Mungkin dengan ini air bisa masuk ke hatiku membawa kedamaian. Bukankah air merupakan pelarut universal. Aku percaya ia pun bisa melarutkan hatiku agar merasa lebih damai.
Aku beranjak dari kursi yang sedari tadi kududuki. Kulepas handset yang terpasang di telingaku.
Beberapa saat kemudian aku telah berada di sana. Di bawah rinai hujan. Kutengadahkan kepala ke atas langit dan tanganku menampung hujan yang turun dengan derasnya. Menumpahkan segala beban yang bergejolak dalam jiwa.
***
Malam ini malam tahun baru kedua yang kulalui bersama Rihan. Lelaki yang sudah dua tahun menjalin hubungan denganku. Tahun baru kemarin adalah tahun baru paling istimewa. Rihan menyatakan cintanya padaku di tengah sahabat-sahabatku. Bahagia. Itu yang kurasa.
Rihan, sesosok cowok yang begitu sempurna di mataku. Tubuhnya tegap. Matanya bagai burung elang, tajam. Apalagi saat ia menatapku dari kejauhan. Meski aku seolah tak melihatnya namun ujung mataku selalu menangkap gerak-geriknya. Atau saat mata kami beradu. Ada seribu debar jantung yang tak terlukis menghampiri hatiku.
“Di depan kalian semua aku mau mengatakan sesuatu. Sesuatu yang beberapa minggu belakangan ini menyiksa batinku. Rasanya aku tak sanggup menahan gejolak rasa ini.”
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba ia menarik tanganku ke depan gerombolan teman-temanku. Dan tiba-tiba saja ia duduk berlutut di hadapanku.
“Saat ini, biarlah malam yang gelap, bulan dan bintang di langit, teman-teman, serta pergantian tahun yang menjadi saksi nyata. Saksi dari rasa cinta yang selama ini kupendam. Maukah engkau menjadi bidadari yang mengiasi hatiku, Dira? Maukah engkau menjadi pengisi kekosongan relung jiwaku?”
Saat itu dunia seolah menatap ke arahku. Aku terpaku diam tak bergerak. Apa yang harus kujawab? Aku tak mampu berkutik. Ya, tentu saja aku mau. Tentu saja aku ingin. Ini yang selama ini aku nantikan.
Aku mengangguk pelan namun pasti. Semua pasang mata menatap kami berdua seraya tersenyum. Tak lama berselang gemuruh tepuk tangan terdengar menguasai ruangan tempat kami berkumpul. Di penghujung tahun 2010 Rihan menyatakan sejuta kata cinta mesra untukku. Membawa sebuah kebahagiaan baru.
***
Hari demi hari berlalu. Konflik-konflik kecil yang terjadi di antara kami bukan penghambat untuk hubungan kami. Hubungan yang terjalin semakin mesra karena kedewasaan kami yang terus bertambah. Saat ini aku sedang menyelesaikan kuliahku di semester lima. Sementara Rihan baru saja diterima menjadi seorang karyawan sebuah perusahaan.
Hari ini, tanggal 31 Desember 2011. Sejak siang Rihan sudah meneleponku dan bilang ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Sesuatu? Apa yang ingin dikatakannya? Apa ia akan melamarku. Oh tidak, apa yang harus ku jawab jika seandainya itu terjadi. Jika kutolak aku membohongi diriku. Karena sejujurnya aku sangat mencintainya. Aku siap jadi pendamping hidupnya meskipun aku masih berada di semester lima. Rihan, mengapa kau selalu mengusik hari-hariku, Sayang?
Sore harinya aku mengadakan persiapan yang istimewa. Baju baru yang sengaja kubeli untuk merayakan satu tahun jadian kami telah kupakai. Bahkan parfum yang baru kubeli sudah setengahnya habis kupakai. Dengan mengoles sedikit eye shadow menambah rasa percaya diriku saat itu. “Apa aku sudah cantik?” tanyaku kepada Risa. Sahabat terdekatku yang sedari pagi sudah stand by di rumahku membantuku berias. Aku merasa bak seorang putri malam itu.
“Siip. Kamu bukan cuma cantik. Tapi perfect. Rihan pasti bangga dan makin sayang padamu,” ujar Risa sambil tersenyum senang.
Tepat pukul 07.00 Rihan telah berada di depan rumahku. Begitu melihatku mulutnya menggelembung membentuk huruf O. Sudah kutebak, ia pasti terpesona melihat penampilanku malam ini.
Rihan mengajakku ke sebuah kafe elit. Setelah kami memesan makanan kami bercanda ria seperti biasa saat bertemu. Rasa bahagia melingkupi segenap jiwaku.
Namun tiba-tiba,
“Diraa,” panggilnya.
“Iya, Sayang,” jawabku manja.
“Kamu tau mengapa aku mengajak kamu nge-date malem ini?”
Aku bingung menjawab pertanyaannya. Pastinyalah. Hari inikan hari jadian kami. Jadi wajar aja dia ngajak aku nge-date. Apalagi ini malam tahun baru.
“Apa?” Akhirnya satu kata ini yang kukeluarkan dari mulut. Pelan tapi pasti.
“Aku mau ….” Rihan berkata lambat sekali. Aku sampai tidak sabar mendengarnya. Ya Allah, akhirnya apa yang aku inginkan bakalan terwujud malam ini. Jantungku berdetak tak beraturan.
“Aku mau kita putus.”
Bletak, seolah ada durian menimpa kepalaku. Aku tak percaya dengan ucapannya. Aku pasti salah dengar.
“Apa kamu bilang? Aku kurang dengar.”
Rihan menghela nafas panjang. Dialihkannya matanya ke sudut lain. Sudut dimana orang-orang juga asyik berbincang menghabiskan malam tahun baru bersama pasangannya.
“Aku mau kita putus,” ulang  Rihan sekali lagi. Kali ini matanya menatap tajam ke arahku. Biasanya aku menyukai tatapan itu. Tapi untuk kali ini, untuk detik ini, dan untuk pertama kalinya aku tidak menyukai pandangan itu. Justru aku membencinya.
“Kenapa?” tanyaku berusaha tegar. Air mata sebenarnya sudah menumpuk di pelupuk mataku. Pedih. Aku gak nyangka akan apa yang dibilangnya. Dunia serasa kebalik.
“Kenapa? Kenapa Rihan?” tanyaku emosi. Aku berdiri dari tempat duduk. Air mataku sudah tak sanggup ku tahan. Butir demi butir air mata turun membasahi pipiku. Melunturkan make up yang kugunakan dari rumah. Melunturkan kecantikan yang sengaja kupersembahkan utuknya.
“Aku mau pergi. Dan sepertinya kita tidak akan pernah bisa berjumpa lagi.”
“Maksud kamu? Kamu mau pergi kemana?”
Berpasang-pasang mata mulai mentap ke arah kami. KamI mulai menjadi perhatian seluruh ruangan.
Karena merasa tidak nyaman Rihan membawaku ke luar ruangan.
“Kita gak mungkin bersama lagi. Dira. aku udah nemuin pasangan sejatiku. Pasangan yang akan menemaniku selamanya. Pasangan yang juga mencintaiku melebihi cintamu padaku bahkan cintaku padanya lebih besar daripada cintaku padamu.”
Plakk … spontan tanganku menampar pipinya.
“Aku gak nyangka. Ternyata kamu gak jauh berbeda dari cowok-cowok lain.”
Kutinggalkan ia sendiri menatp kepergianku. Air mata sudah membanjiri wajahku sedari tadi. Tapi tidak wajah Rihan. Kupanggil taksi yang membawaku pulang. Tak berapa lama kemudian kudengar keributan dari tempat Rihan. Ketika kutolehkan wajah, kulihat tempat Rihan berdiri dikerumuni banyak orang. Tak kuhiraukan. Hatiku pilu. Sangat pilu.
Begitu sampai di rumah kubanting pintu kamar. Bunda yang melihat hal itu langsung terkejut. Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Dir, Diraa … buka pintunya, Sayang. Ini bunda.”
“Masuk aja bun. Gak Dira kunci,” jawabku terisak.
Begitu bunda masuk, beliau langsung memelukku. Kutumpahkan seluruh tangisku di dadanya. Bunda memang selalu mengerti aku. Hanya dia makhluk paling sempurna di dunia ini.
Kemudian bunda bertanya padaku apa yang terjadi. “Saat mau pergi wajah anak bunda berbinar-binar. Pulangnya kok cemberut gini?”
Kuceritakan padanya apa yang terjadi dan keberengsekan manusia bernama Rihan itu. Bunda terkejut mendengar penuturanku.
***
Jam masih menunjukkan pukul 06.00 saat handphone yang kuletakkan di meja samping tempat tidur tiada henti berbunyi. Aku keluar dari balik selimut dan melihat siapa yang menelepon sepagi ini. Tadi malam aku tidak ikut merayakan pesta tahun baru. Hanya bunda yang menemaniku hingga kuterlelap di  dunia mimpi. Entah jam berapa, aku pun tak tau.
“Assalamualaikum, Halo,” sapaku malas.
“Apa?” aku terlonjak kaget begitu mendengar berita yang dibawakan sang penelepon yang tak lain dan tak bukan adalah Risa.
Aku langsung bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah mandi bebek, aku langsung mengganti baju dan segera pergi.
“Mau kemana, Dir, sepagi ini?” tanya bunda saat melihatku akan pergi.
“Ke rumah sakit, Bun,” jawabku singkat.
“Loh, siapa yang sakit?”
Tak kuacuhkan pertanyaan bunda. Pikiranku kalut. Setelah mencium tangan ibu dan pamit aku langsung meluncur ke rumah sakit yang diberitahu Risa.
Sesampainya disana aku langsung menuju ruang ICU. Disana tampak tante Avioleta, mama Rihan menangis sesenggukan. Sementara Risa belum namppak batang hidungnya. Begitu melihat kehadiranku wanita itu langsung memelukku. Tangisanku iut pecah disana.
“Dia udah gak ada, Ra. Rihan udah gak ada.”
Seketika aku terjongkok begitu pelukan kami lepas. Lututku terkulai lemas. Ya Allah, kenapa kau memanggilnya secepat ini? Kenapa? Aku mencintainya ya Allah, jerit batinku.
***
Sehabis solat Dzuhur jenazah Rihan langsung dimakamkan. Pemakaman yang berlangsung dengan cepat namun menyisakan luka mendalam. Di tumpukan tanah tempat peristirahatan terakhirnya aku terjongkok. “Selamat jalan kekasihku. Selamat tidur!” ucapku dalam hati. Air mataku tak mampu kubendung. Risa mengangkat tubuhku yang lemah lunglai tak berdaya dan memapahku pulang.
Sebelum meninggalkan pemakaman seseorang memanggilku.
“Kak Dira …”
Kutolehkan wajahku ke belakang. Tampak Adit, adik Rihan di belakang kami. Ia berlari ke arah kami.
“Kak, ini dari kak Rihan. Kata kak Rihan, kalau kak Rihan meninggal aku disuruh ngasih ini ke kakak.”
Kuambil surat dan sebuah kado kecil dari tangan Adit. “Makasih ya, Dit.”
Adit mengangguk dan berlalu.
Sesampainya di rumah kubuka surat dari Rihan. Risa masih berada di sampingku. Dia sangat cemas melihat keadaanku. Risa tau apa yang terjadi antara aku dan Rihan tadi malam. Risa sempat datang ke rumahku dan ikut mendengarkan curhatku bersama dengan bunda. Ketika aku tidur Risa pulang ke rumahnya. Awalnya bunda nyuruh dia nginap di rumahku. Namun karena belum pamit pada mamanya Risa tidak mau.
Kubaca perlahan surat manis itu.
Dear bidadari yang selalu ada di hatiku.
Malam tahun baru adalah malam terindah untuk kamu dan aku. Malam yang selalu kita nantikan kehadirannya. Malam yang saat itu menjadi saksi bisu cinta yang bersemi di antara kita.
Maaf, aku telah melukaimu bidadari hatiku. Tiada maksud apapun di dalam hatiku. Hatiku masih untukmu saat ini. bahkan untuk selamanya.
Sejujurnya aku ingin melintasi banyak waktu lagi bersamamu. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Namun takdir berkata lain. Kita harus berpisah. Aku tau ajal di depan mataku. Aku sengaja tidak memberitahukan padamu, Sayang. Aku tak mampu harus berkata jujur padamu. Biarlah surat ini yang menjadi perantara isi hatiku.
Sebenarnya setahun terakhir ini aku menderita kanker otak yang cukup parah. Aku tau nyawaku tidak akan selamat. Aku tau usiaku pendek. Bahkan dokter sudah memvonis hal itu. Aku tak mau ada sebutir airpun menetes di pipimu saat kematianku. Biarlah engkau membenciku. Biar, yang penting kau tidak menangisi kepergianku.
Bidadariku, aku akan pergi selama-lamanya dari hidupmu. Gapai semua angan citamu. Banyak lelaki yang lebih baik dariku. Banyak lelaki yang akan mencintaimu melebihi cintaku padamu. Maafkan aku sayang tak bisa menjaga dirimu.
Beserta surat ini ada sebuah kado kecil istimewa yang kupersembahkan untukmu bidadari pengisi relung jiwaku. Kado terakhir yang kuberikan sebagai kado valentine yang sebentar lagi hadir. Semoga engkau bahagia tanpaku disisimu.
Rihan

Air mataku sudah membanjiri pipi saat kubaca surat itu. Risa hanya mengelus-elus pundakku mencoba menenangkan. Kubuka perlahan kado itu. Sebuah kalung dengan liontin kecil sebagai mainannya. Ukiran huruf DR menghiasi liontin itu.
***
Malam ini adalah setahun kepergian Rihan. Di bawah derai hujan kutengadahkan wajah ke langit. Aku ingin mengabulkan permintaan Rihan untuk tidak menangis. Aku buktikan di bawah rinai hujan ini. Biarlah wajahku basah oleh air hujan. Toh kalaupun aku menangis, tak akan ada seorang pun yang tau. Apalagi Rihan. Aku tak mau Rihan melihatku menangis, tidak akan.
Kutegarkan diri meyakinkan bahwa orang yang selama setahun kutunggu sms darinya telah tiada. Aku tau kau telah bahagia bersama pasanganmu yang mencintaimu lebih dari cintaku dan kau cintai melebihi cintamu padaku. Kutau Rihan. Ku tau Dia selalu menjagamu, sama seperti Dia menjagaku. Bahkan dia lebih menginginkan kau ada di sisi-Nya daripada di sisiku. Aku terduduk dan terkulai lemas di depan rumah ditemani rinai hujan yang semakin deras.



                                                      Dhi Diera    
 Pematangsiantar, 18 Agustus 2012   






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesan dan Pesan Untuk Asisten Laboratorium Fisika Kami (Kak Yosico Indagiarmi)

Assalamualaikum.. Dear kak Yosi yang cantik.. Sebenarnya di awal Dika bingung harus ngebuat apa berhubung dan dikarenakan Dika sadar bahwa Dika tidak termasuk orang kreatif :D Oke, jadi awal ceritanya tuh udah dapet ide mau buat kartu ucapanlah, mau buat videolah, mau nyatuin foto pake videomaker lah, bla bla bla. Namun dikarenakan ketidakpandaian manajemen waktu, akhirnya keter deh segalanya dan Dika memutuskan untuk mempost kesan dan pesan Dika di sini :D Awal mulanya Dika ingin berterimakasih kepada kakak yang telah membimbing kami selama satu semester dengan penuh kesabaran. Kami sadar bahwa kami benar-benar pusing dibuat mata kuliah fisika, namun kakak dengan sabar mengarahkan setiap praktikum yang kami jalani dan membuat kami menjadi senang dalam mengikuti mata kuliah ini ^^ Kesan dan pesan Dika terlampir di foto di bawah ini (maaf kurang kreatif kak :v) Kesannya tuh seperti tulisan saya di atas, kak Yosi itu cantik. Beneran deh, dari awal kita lihat kakak ...

Rindu

Sering banget saat futur rindu pada diri yang dulu... Ya, rindu lama-lama bermunajat, nangis saat shalat malam, hanya karena tahu bahwa kalo tanpa pertolonganNya ga mungkin diri ini bisa kuat menjalani hidup. Rindu begitu ambis mengejar mimpi, sampai tiap malam getol belajar sampai subuh, terus ga tidur lagi. Terkadang hidup rasanya mundur ke belakang, apalagi saat setan mulai sibuk menggoda. Udah tahu setan itu musuh manusia, kok ya mau aja nurut sama setan ya.  Dasar manusia. Anas bin Malik  radhiyallahu ‘anhu  berkata bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  biasa membaca do’a: اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ “ Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan,...

Muhammad Al-Fatih

 I have so much favorite books. But i will tell about the last book that i read. The title ia Muhammad Al-Fatih 1453. This is one of the best book that I read. This book tell about how Muhammad Al-Fatih grew up, how ulama learned him, how her parents gave them the best lessons from the best teachers, and how he is Obey to syariah. He is the one who never left salah, baik yang wajib maupun rawatib, beliau juga ahli shalat malam yang sebagian besar waktu malamnya dihabiskan untuk bertaqarrub kepada Allah. Semoga kita bisa menjadi salah satu hamba pilihan Allah sepertinya. Semoga Allah berkahi umur kita untuk dapat memberikan sebaik-baik pengabdian untukNya :)