Alhamdulillah, Allah masih sampaikan kita di tahun baru. Biasanya tahun baru menjadi ajang untuk evaluasi target-target dalam hidup dan refleksi atas satu tahun yang telah berlalu.
2021 banyak sekali memberi pelajaran dalam hidup, khususnya pelajaran tentang ekspektasi dan hubungan interpersonal. Tahun 2021 juga tahun yang berat bagi beberapa orang. Kalo aku sendiri sih lebih ngerasa banyak bergelut dengan diri sendiri. Begitu banyak pertengkaran yang terjadi di kepala hingga membuat hati lelah. Hati lelah, fisik pun ikut lelah. Bahasa kerennya kena psikosomatis. Hingga di penghujung tahun aku membuat sebuah resolusi. Memaafkan siapapun sebelum tidur. Benar-benar rasanya plong!
Apa resolusi itu terwujud begitu saja? Tentunya butuh proses dong :)
Lagi-lagi aku belajar untuk menerima diriku, untuk mencintai diriku lebih dari siapapun, eh tapi aku sering merasa sih, secinta apapun aku pada diriku, ternyata Allah lebih sayang. Cara-cara Allah mengatur hidup, skenario-skenarionya yang sering sekali plot twist, hingga bagaimana tenangnya saat hanya berduaan denganNya membuatku tersadar, bahwa memang cintaNya Allah itu paling besar.
Aku seperti kamu, pernah berharap pada manusia, kemudian kecewa. Tapi setelah dipikir lagi, siapa yang suruh kita untuk berekspektasi? Padahal Allah sendiri yang suruh untuk selalu dekat denganNya, untuk senantiasa mengingatNya dalam segala kondisi, eh malah kitanya yang nyusahin diri sendiri dengan berekpektasi ke manusia yang jelas-jelas banyak kurangnya :)
Hingga pada akhirnya seorang sahabat bilang, Dika aku tahu ini berat. Minta ke Allah buat bantu ya, biar rasanya lebih ringan. Akhirnya setiap kali aku berdoa aku meminta ya Allah penuhi hatiku hanya dengan kecintaan padaMu. Daann hasilnyaaa Allah mahabaik dengan segala limpahan kasih sayangNya :')
Perlahan aku mulai memahami bahwa berekspektasi pada manusia itu salah. Hingga aku senantiasa berusaha untuk menolkan ekspektasi. Menyerahkan segalanya pada keputusanNya. Menyerahkan seluruh jalan hidup padaNya. Setidaknya aku telah berusaha, biar Allah yang menentukan hasil akhirnya.
Tapi kan kadang kita tuh udah usaha do our best tapi kenapa partner kita ga melakukan hal yang sama? Terkadang tuh juga saat kita udah berusaha baik tapi orang lain malah jahat. Kenapa sih begitu? Kan ga adil!!
Mungkin hal itu tersirat dalam diri kita, begitupun aku dulu. Sampai-sampai rasanya nangis semalaman hanya karena dicuekin atau merasa sendiri ngerjain semua hal. Tau gak kenapa? Karena kita belum berusaha untuk meluaskan hati kita. Hati itu ibarat wadah. Jika wadahnya sempit, misalnya sebaskom doang, kalo diisi garam 1 kg otomatis dia bakal asin. Tapi kalo wadahnya luas, misalnya sebesar kolam renang ukuran 10x10x10 m, jangankan dimasukin garam 1 kg, dimasukin garam 5 kg juga ga bakal asin.
Tapikan ga semudah itu Dikaaa...
Iya, aku tahu ga mudah. Aku juga masih belajar. Tapi hasil yang kuperoleh begitu mengagumkan. Di saat ekspektasi nol, hidup bakal lebih ringan, lebih produktif, lebih ikhlas terhadap apapun.
Terus mungkin bakal kepikir, kalo gitu bukannya artinya kita dimanafaatkan orang ya?
Lah, kita selalu berdoa untuk menjadi manusia yang bermanfaat kan? Kalo ada yang memanfaatkan kita harusnya bersyukur dong, artinya kan doa kita terkabul? Gimana sih, dasar manusia 😜😂
Emang apa aja sih yang udah terjadi di 2021.
Ketika ketemu partner kerja yang benar-benar menguras hati akibat excuse yang terus menerus, aku belajar untuk mengerjakan aja apa yang bisa dikerjakan. Kalo partner kerja nanya dijawab, kalo ga nanya yaudah biarin aja. Selalu positif thinking barangkali beliau lagi sibuk dengan urusannya. Doain aja urusannya lancar jaya selalu.
Kemudian ketemu orang yang suka tarik ulur tanpa ngerasa bersalah. Tetap kalem. Kalo ngerasa annoying ya silakan tinggalkan. Karena aku tipe yang sukaa bangett diajakin projek sosial dan biasanya ga bisa nolak, maka membatasi komunikasi dengan tipe orang seperti ini penting, karena menjaga mental tetap happy sebelum membahagiakan orang lain itu penting.
Dan saat mengalami pergejolakan di bidang akademis yang luar biasa buat depresi yang bahkan buat sering nangis sendiri. Ngerasa lingkungan ga mendukung, harus struggling, rasanya ga enak banget. Mungkin Allah hanya sedang rindu. Banyakin dzikir, ingat Allah, minta bantuan Allah. Selama Allah bersama kita, ga ada yang perlu dikhawatirkan. Mudah banget bagi Allah membalikkan keadaan. Permintaan kita yang sejibun itu, buat Allah seujung kuku pun gaada apa-apanya :')
Inti dari segala pelajaran adalah, mari meluaskan hati, memaafkan orang-orang, berhenti berekspektasi, berhenti bergantung pada orang, kalo bisa dilakuin sendiri yaudah dikerjain aja, menghindari lingkungan dan orang-orang toxic, being happy the way you are..
Semoga kita senantiasa sehat fisik maupun mental yaa 🤗💙
Komentar
Posting Komentar
Jangan ragu komentar ya, Teman ;)