Langsung ke konten utama

Postingan

Cukup Allah Saja~

Terkadang kita perlu merasa sendiri di dunia Terkadang kita perlu merasa jatuh sejatuh-jatuhnya Terkadang kita perlu berdiam diri,  Hingga pada akhirnya kita bisa benar-benar merasakan Bahwa kita tanpaNya bukanlah apa-apa Hingga kita yakin, bahwa Allah tempat bergantung atas segala sesuatu Hingga kita yakin, bahwa Allah selalu ada untuk kita Hingga ketenangan itu menyelusup ke dalam jiwa..  Terkadang merasa malu tatkala dikelilingi orang-orang yang menyayangi kita lantas kita terlenakan olehnya..  Seolah-olah rasa cinta kita kepada manusia melebihi rasa cinta padaNya Terkadang merasa malu pula tatkala tanpa bisa kita hindari Perasaan suka dan kagum hinggap melintas dalam hati Kepada seseorang, kepada hambaNya jugaa Lantas timbul pengharapan-pengharapan dalam diri Padahal Dia sebaik-baik tempat bergantung..  Maafkan diri ya Allah, diri yang masih sering lalai :')  Hingga cobaan yang sama sering kali menerpa Karena memang belum lulus, jadi wajar kalo remedial Tapi...

Melangkah

Sebenarnya di balik hari-hari belakangan ini yang begitu berat untuk dilalui, ada banyak hikmah yang Allah ingin sampaikan. Ada banyak sekali pembelajaran yang baru aku dapatkan, khususnya terkait hubungan interpersonal dengan orang lain. Benar sekali jika kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan, apa yang orang lain lakukan. Tapi kita bisa mengontrol apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lakukan..  Tersadar pula bahwa apapun yang telah terjadi sebenarnya adalah buah doa tahun-tahun sebelumnya. Seberat apapun beban yang ada di depan mata, sebenarnya masih ada banyak hal yang patut untuk disyukuri.  Memang usia 1/4 abad membuat banyak dilemma tentang keputusan-keputusan besar dalam kehidupan. Tapi bukankah Allah Maha Besar? Gak ada yang gak mungkin selama Allah berkehendak. Hanya terkadang kita saja yang luput, lalai dalam mengingat kebenaranNya sehingga dengan mudahnya setan menyusup ke dalam hati dan menyebarkan rasa takut.  Setiap kali berbicara dengan...

Secercah Hikmah - 1 Muharram 1443 H

Beberapa hari belakangan ada banyak sekali hal yang menyita pikiran. Puncaknya adalah hari ini saat rasanya semua jalan mentok, berusaha untuk mencari jalan keluar yang masih bisa diupayakan, hingga akhirnya Allah menunjukkan kuasaNya dengan begitu apiknya~ Hari ini berencana untuk makan bareng teman-teman satu kos di Kebon Empring, tapi qodarullah tutup dong. Padahal jarak dari kos ke Kebon Empring 45 menit. Akhirnya kita cari makan yang dekat di sana sambil membicarakan masalah penting, mengenai perpanjangan kontrakan yang tak jua menemukan penghuninya. Akhirnya kita ambil opsi lain yaitu mencari kontrakan baru yang masih terjangkau untuk kita berempat. Jadi kapasitas kontrakan yang lama itu untuk 7 orang.  Sebenarnya aku masih dilema bangett untuk tetap lanjut ngekos karena punya rumah di Klaten dan bakal jarang ke kampus juga. Jarak kampus ke rumah sekitar 45 menit yang notabenenya masih bisa dijangkau untuk pulang-pergi.  Sepulang dari sana temen-temen ikhtiar cari kosan ...

Rindu

Sering banget saat futur rindu pada diri yang dulu... Ya, rindu lama-lama bermunajat, nangis saat shalat malam, hanya karena tahu bahwa kalo tanpa pertolonganNya ga mungkin diri ini bisa kuat menjalani hidup. Rindu begitu ambis mengejar mimpi, sampai tiap malam getol belajar sampai subuh, terus ga tidur lagi. Terkadang hidup rasanya mundur ke belakang, apalagi saat setan mulai sibuk menggoda. Udah tahu setan itu musuh manusia, kok ya mau aja nurut sama setan ya.  Dasar manusia. Anas bin Malik  radhiyallahu ‘anhu  berkata bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  biasa membaca do’a: اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ “ Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan,...

Muhammad Al-Fatih

 Kali ini aku pengen ngereview buku yang belakangan kubaca. Nah, jadi kemarin itu bela-belain baca buku Muhammad Al-Fatih karya ustadz Felix Y. Siauw. Alhamdulillah, bisa kholas dua hari. Yey.. Dalam buku ini mengisahkan tentang sesosok Al-Fatih dari masa kecilnya sampai bagaimana beliau mampu menakhlukkan konstatinopel. Ayahnya, Sultan  Murad II, memiliki tiga orang putra di mana dua di antaranya dibunuh saat masih kecil. Jelas saja banyak yang ingin membunuh anak-anak sultan karena cita-cita Khalifah Turki Utsmani sejak dulu adalah menakhlukkan Konstatinopel. Begitu banyak pihak yang worry cita-cita itu terwujud. Hingga akhirnya Sultan Muhammad Al-Fatih atau nama aslinya Sultan Mehmed akhirnya menjadi harapan terakhir Kesultanan Turki Utsmani. Sejak umur 9 tahun beliau telah diajari pemerintahan oleh ayahnya. Beberapa kali sempat gagal dan diremehkan namun akhirnya dari sana beliau belajar. Sifatnya yang keras dimanfaatkan ayahnya untuk mengajarinya prinsip islam yang lurus....

Dipaksa Cinta

Biologi menjadi salah satu mata pelajaran yang sulit bagiku. Jika dibandingkan dengan mata pelajaran eksakta lainnya aku lebih memilih pelajaran Kimia dan Matematika. Sepertinya aku memang tidak berbakat dalam menghafal.  Keinginan menjadi dokter membuatku akhirnya memilih biologi sebagai jurusan untuk batu lompatan tatkala tidak lulus di FK Negeri pada tahun 2014. Dan begitulah 2014-2015 aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswa biologi dengan paksaan bagaimana aku bisa menyukainya dengan sepenuh hati. Terkadang masih timbul rasa sedih karena menganggap ini semua tidak adil. Hingga akhirnya pada tahun 2015 Allah mengizinkanku untuk lulus di salah satu FK salah satu PTN. Namun takdir berkata lain, akhirnya harapan menjadi dokter pupus di tahun 2015. Aku pun menguatkan tekad untuk mencintai biologi lebih dalam dan menyusun rencana apa yang akan kulakukan dengan jurusan ini. Wkwk. Akhirnya I decided to continue my master degree.. Drama DIPAKSA CINTA ga sampe situ, nah ternyata di sin...

Mencintai Proses

 Entah sejak kapan belajar menjadi satu hal yang kusukai. Saat berhasil memecahkan soal-soal yang diberikan guru, menjadi juara kelas, memahami pelajaran dengan baik, mungkin saat itu aku mulai jatuh cinta. Ya. Jatuh cinta pada belajar. Belajar terasa begitu menyenangkan. Namun, rasa cinta itu semakin berkurang tatkala aku memasuki masa kuliah. Berada di jurusan yang sama sekali tidak aku sukai benar-benar berhasil menurunkan motivasi belajar. Ketika pelajaran yang diajarkan dosen dirasa tidak penting, berujung pada kurangnya pemahaman. Adab yang tidak baik tatkala dosen menerangkan pelajaran, mengurangi keberkahan ilmu. Benarlah perkataan bahwan adab itu penting. Adab dulu baru ilmu. Menyesal? Of course. Tapi apa yang perlu disesalkan ketika sesuatu sudah terjadi. Semua kesulitan semakin terasa sewaktu aku mengambil program magister. Berada di jurusan yang tidak sesuai dengan jurusan di S1 (ya meskipun masih ada keterkaitannya sebenarnya), sukses membuat stress berkepanjangan. Saa...